Tanah Papua Tanah Yang Kaya
Surga Kecil Jatuh Ke Bumi
Seluas Tanah Sebanyak Batu
Adalah Harta Harapan
Tanah Papua Tanah Leluhur
Disana Aku Lahir
Bersama Angin Bersama Daun
Aku Dibesarkan
Hitam Kulit Keriting Rambut
Aku Papua
Hitam Kulit Keriting Rambut
Aku Papua
Biar Nanti Langit Terbelah
Aku Papua
(Aku Papua-NN)
Tahun 2009, untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di Tanah Papua, tepatnya di Manokwari, Papua Barat. Kalau di Peta Indonesia, Manokwari berada tepat di paling barat atau kalau Pulau Papua seperti bentuk burung, Manokwari berada di kepala burungnya. Dari Jakarta (bandara soekarno hatta) membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam untuk tiba di Manokwari (bandara Rendani), namun ada perbedaan waktu Jakarta dengan Manokwari yaitu 2 jam. Selama di pesawat, kita bisa melihat gugusan pulau yang sangat indah.
Bandara Rendani dikelilingi lautan, jadi sebelum mendarat pesawat akan terbang diatas laut dengan jarak yang sangat rendah, yang tentunya terlihat sangat indah. Luas wilayah Kota Manowari kira-kira 23% dari wilayah kota Bandung. Kalau saya tidak salah menghitung jumlah traffic light di sana hanya 8 buah. Di sana hanya ada angkutan umum dan ojeg untuk transportasi umum. Angkutan umum yang digunakan adalah mobil carry (bukan mobil bak terbuka) dengan posisi kursi yang tidak diubah, jadi seakan-akan kita naik mobil pribadi, apalagi tidak ada tulisan jurusan di kaca depan mobil carry tersebut.
Di Manokwari terdapat beberapa pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari dan satu supermarket yang cukup besar dan sangat terkenal bagi penduduk Manokwari. Kalau mencari makanan di pinggir jalan tidak begitu sulit, ada sate, bakso bahkan es pisang ijo makanan khas Makasar. Es pisang ijo banyak ditemui di Papua karena disana banyak penduduk Makasar yang bermigrasi ke Manokwari bahkan terdapat "Kampung Makasar" yang menandakan bahwa terdapat banyak orang Makasar di Manokwari. Selain orang Makasar, banyak pendatang dari Pulau Jawa yang memutuskan mencari nafkah di Manokwari.
Banyak orang yang bilang barang-barang di Papua sangat mahal. Menurut saya, itu tergantung gaya hidup kita disana. Memang benar, barang-barang yang didatangkan dari pulau Jawa pastinya mahal, karena biaya pengiriman barang dari Jawa pasti mahal. Tetapi kalo kita menggunakan barang-barang yang berasal dari Papua bisa dikatakan harganya biasa saja atau kadang-kadang murah. Contoh: setiap hari saya dimasakan ikan dengan berbagai macam bumbu oleh ibu angkat saya di Papua, dimana bagi saya yang tinggal di Bandung (daerah gunung) ikan sangat mahal, sedangkan di Papua dengan uang 10 ribu kita dapat menikmati 5-8 ekor ikan berukuran sedang. Akan tetapi, barang-barang yang dikirim dari pulau Jawa seperti Shampo, Air Mineral Kemasan, Semen, Telepon Genggam (HP) harganya bisa mahal bahkan berkali-kali lipat dibandingkan harga di Pulau Jawa.
Kalau ke Manokwari harus ke Pantai Pasir Putih dan Pulau Mansinam. Di Pantai Pasir Putih kita bisa melihat birunya laut dan pasir yang sangat putih tanpa dipungut biaya alias gratis. Bahkan birunya laut bisa kita lihat dari pinggir jalan ketika kita sedang berada dalam kendaraan. Di Pantai Pasir Putih terdapat berbagai penjual makanan. Sedangkan Pulau Mansinam, merupakan pulau kecil tempat pertama kali injil masuk ke Papua. Apabila ingin ke Pulau Mansinam, pengunjung harus menggunakan perahu motor (atau biasa disebut taksi laut) selama 5 menit dari distrik Pasir Putih menuju Pulau Mansinam. Dari Manokwari kita bisa berkunjung ke Raja Ampat yang terkenal denga keberagaman biota lautnya. Dari pelabuhan Manokwari kita bisa menggunaka kapal laut menuju Sorong (kota gerbang perdagangan Papua Barat) lalu dari Sorong kita bisa menggunakan kapal cepat menuju Raja Ampat.
Pantai Pasir Putih
Pulau Mansinam
Bintang Laut di Pulau Mansinam
Senja di Pasir Putih




Tidak ada komentar:
Posting Komentar